Latar Belakang
Pengamalan Dhamma oleh umat Buddha di Indonesia perlu ditopang dengan sumber yang layak, yaitu kitab suci Tipiṭaka. Sementara itu kitab yang ada di lingkungan sekitar kita jumlahnya sangat terbatas, maka perlu diadakan usaha penerjemahan kitab suci Tipiṭaka berbahasa asing ke bahasa Indonesia dengan harapan mampu menambah pembendaharaan kitab dan melengkapi kebutuhan umat Buddha akan pengetahuan Buddha-Dhamma. Kenyataan ini disadari oleh masyarakat dan bahkan ada beberapa orang yang langsung menyampaikan pendapat ini kepada Y.M. Bhikkhu Jinadhammo Mahāthera. Beliau merasa ide ini perlu direalisasikan.- ≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
BACKGROUND OF ESTABLISHMENT
Dhamma implementation by Buddhists in Indonesia needs to be supported by reliable sources, i.e. Tipiṭaka holy scripts. Meanwhile, scripts in our neighborhood are very limited, therefore efforts to translate Tipiṭaka of foreign languages into Indonesian language should be made with hope to enrich scripts vocabulary and supply Buddhists’ needs of Buddha-Dhamma knowledge. This reality was acknowledged by the community and some people even conveyed this idea directly to the Venerable Jinadhammo Mahāthera. He considered that this idea should be realized.
After those who wished to help him in realizing this idea gathered, the team was formed and named INDONESIA TIPITAKA CENTER (ITC). ITC board inauguration took place on May 4, 2003 at Acarya Asangha Hall Borobudur Temple.
ITC team recruits translators in order to translate Tipiṭaka holy scripts from English into Indonesian. In other hand, ITC also organizes fund raising activities to ease the translation process.
